Epidural Hemorrhage atau Perdarahan Epidural

By Gugum Indra Firdaus

Epidural Hemorrhage (EDH) adalah sebuah bentuk yang relatif mudah diatasi dari trauma kepala, pasien dengan EDH sering berprognosis baik. Dalam keadaan yang jarang, terjadinya perdarahan dapat terjadi secara spontan. Kemajuan di bidang CT Scan telah membuat konfirmasi diagnosis EDH menjadi cepat dan akurat.
EDH terjadi di potential space antara duramater dan cranium. EDH merupakan akibat dari pecahnya pembuluh darah duramater, antara lain arteri meningea media, vena, sinus venosus duramater, dan pembuluh darah yang berada di jaringan lunak kepala. Perdarahan massif dapat mengakibatkan tekanan intrakranial meningkat.
Berikut gambaran CT Scan yang menunjukkan adanya Epidural Hemorrhage :
CT Scan dari EDH akut sebelah kiri. Tampak lesi hiperdens bentuk tipikal convex. Hematom membentuk demikian karena berada di bawah permukaan cranium, dibatasi dengan sutura. Tampak juga midline shift sistem ventricular. Perdarahan ini membutuhkan operasi evakuasi segera.
Frekuensi
Sekitar 10-20% dari pasien dengan trauma kepala diperkirakan mengalami EDH, 17% pasien yang sebelumnya sadar lalu kemudian memburuk sampai koma, mengalami EDH.
Etiologi
Trauma merupakan penyebab tipikal dari EDH. Trauma biasanya merupakan trauma tumpul pada kepala akibat suatu serangan, jatuh, atau kecelakaan. Distosia, kelahiran dengan forceps dan trauma kepala saat melalui jalan lahir dapat mengakibatkan EDH pada bayi baru lahir.
Perjalanan Penyakit
Tidak seperti Subdural Hematoma, contusio cerebri, atau trauma difus pada kepala (otak), EDH tidak dihasilkan akibat gerakan kepala sekunder atau akselerasi kepala. EDH utamanya disebabkan oleh ganguan struktur duramater dan pembuluh darah kepala biasanya karena fraktur calvaria. Laserasi (robeknya) arteri meningea media dan sinus venosus duramater yang menyertainya merupakan etiologi terbanyak.
Pada fossa posterior, kelainan sinus venosus duramater (misalnya: sinus transversus atau sinus sigmoid) karena fraktur dapat memicu EDH. Kelainan sinus sagitalis superior dapat menyebabkan EDH vertex. Sebab non-arterial lain dari epidural hemorrhage termasuk pelebaran vena, vena diplo, granulationes arachnidales, dan sinus pertrosus.
Sebagian kecil epidural hematom telah dilaporkan tanpa adanya trauma. Etiologinya dapat suatu penyakit infeksi pada kepala, malformasi vaskuler dari duramater, dan akibat suatu metastasis dari tumor ganas tertentu. EDH spontan dapat pula terjadi pada pasien dengan koagulopati akibat masalah medis primer lain (seperti: fase terminal penyakit hati, peminum alkohol kronis, atau penyakit lain yang berkaitan dengan disfungsi platelet).
Banyak hematoma epidural melibatkan kasus trauma, sering juga pada kasus benturan benda tumpul pada kepala. Pasien mungkin memiliki tanda eksternal berupa cidera kepala seperti laserasi kulit kepala, cephalohematoma, atau memar. Cidera sistemik mungkin juga dapat dijumpai. Tergantung dari kekuatan benturan, pasien dapat tanpa hilang kesadaran, penurunan kesadaran singkat, atau kehilangan kesadaran.
Klasik lucid interval terjadi pad 20-50% pasien dengan EDH. Pada awalnya, suatu benturan yang menyebabkan cidera kepala sedikit mempengaruhi kesadaran, setelah perbaikkan kesadaran, EDH berlanjut meluas sampai mengakibatkan  efek massa dari perdarahan itu sendiri sehingga meningkatkan tekanan intrakranial  (TIK), penurunan kesadaran, dan dapat mengalami sindrom herniasi.
Dengan kenaikan TIK, sebuah respon Cushing dapat terjadi. Trias Cushing klasik antara lain hipertensi sistemik, bradikardi, dan depresi nafas. Respon ini biasanya terjadi ketika perfusi cerebri, sebagian batang otak berkurang karena peningkatan TIK. Terapi antihipertensi selama ini dapat memicu iskemik cerebri dan kematian sel yang kritis. Evakuasi lesi massa meringankan “Cushing Respon”.
Penilaian neurologi sangat penting. Perhatian sudah seharusnya dilakukan terhadap tingkat kesadaran, aktivitas motorik, respon membuka mata, verbalisasi, reaksi pupil dan ukurannya, dan tanda lateralisai seperti hemiparesis atau hemiplegia. GCS sangat penting dalam penilaian kondisi klinis terbaru dari pasien. GCS memiliki korelasi positif dengan outcome. Pada pasien sadar dengan lesi massa, fenomena “pronator drift” mungkin membantu untuk menilai klinis signifikasi klinis. “Drifting” ekstrimitas ketika pasien diminta untuk memegang kedua lengan terentang dengan telapak tangan menghadap ke atas menunjukkan efek massa halus namun signifikan.
Anatomi klinik
Di bawah tulang tengkorak terdapat duramater, yang melapisi struktur leptomeningeal, araknoid, dan piamater, yang pada gilirannya melapisi otak. Duramater terdiri dari 2 lapisan, dengan lapisan luar berfungsi sebagai lapisan periosteal untuk permukaan dalam tengkorak.
Sesuai dengan usia seseorang, duramater menjadi lebih melekat ke tengkorak, mengurangi frekuensi terjadinya EDH. Pada bayi, tengkorak lebih lentur dan kecil kemungkinannya untuk fraktur. EDH dapat terjadi ketika duramater terkelupas dari tengkorak karena benturan.
Duramater sangat melekat pada sutura, yang menghubungkan berbagai tulang tengkorak. Sutura mayor antara lain sutura coronalis (os frontal dan parietal, sutura sagitalis (antara kedua os parietal, dan sutura lambdoidea (os. parietal dan occipital). EDH jarang meluas melewati sutura.
Regio yang paling sering terjadi EDH adalah regio temporal (70-80%). Pada regio temporal, tulangnya relatif lebih tipis dan arteri meningea media dekat dengan tabula interna tulang tengkorak. Insiden EDH di area temporal sedikit pada pasien anak-anak arteri meningea media belum terbentuk sempurna dalam sulcus yang dekat dengan tabula interna tulang tengkorak. EDH terjadi pada region frontal, occipital dan fossa posterior dengan frekuensi kira-kira sama. EDH terjadi jarang terjadi pada region vertex atau parasagital.
Berdasarkan studi anatomi, arteri meningea media disertai oleh 2 sinus duramater yang berada di masing-masing sisi pembuluh darah. Oleh karena itu, laserasi arteri ini kemungkinan akan menyebabkan campuran perdarahan arteri dan vena.
Risiko Kegagalan Operasi
EDH, ketika observasi atau operasi gagal, dapat mengakibatkan herniasi cerebral dan kompresi batang otak, dengan infark cerebral atau  kematian sebagai konsekuensinya. Oleh karena itu, informasi tentang EDH sangatlah penting.

Artikel terkait : Mengapa kita bisa melihat melalui udara? dan  Hipospadia.


.comment-content a {display: none;}