Radiologi Intervensi (Interventional Radiology)

Hm...ga tau tiba-tiba saya teringat dengan salah satu kuliah radiologi mengenai Interventional Radiology (IR). Interventional radiology merupakan subspesialisasi di bidang radiologi, IR ini sudah berkembang pesat di US dan UK. Sedangkan di Indonesia saya sendiri belum tahu pasti perkembangannya, yang jelas Radiologi Intervensi merupakan salah satu topik yang terbilang baru di dunia kedokteran Indonesia, dosen saya waktu itu juga hanya menjelaskan secara superficial, saya tahu beliau telah menguasai ilmu IR ini dengan baik, tapi apa beliau juga sudah melakukan pelayanan tersebut di Rumah Sakit Dr Kariadi, FK UNDIP, tempat saya menuntut ilmu? Bukan apa-apa, ini hanya menyangkut ketersediaan teknologi untuk melakukan pelayanan IR tersebut. Mengenai ilmu, saya tidak meragukan dokter-dokter radiologi di Indonesia sudah cukup menguasai ilmu ini dan tak ketinggalan dengan dokter di barat.
UpDate: Ternyata di RSUP dr Kariadi telah lama juga melayani pelayanan radiologi intervensi,,(eum..rupanya saya kurang up to date tentang lingkungan tempat saya belajar, hehehe..jd malu sendiri).

Interventional Radiology merupakan jenis intervensi non bedah, sehingga lebih aman, selain itu cost pelayanan ini juga lebih rendah. Tak ketinggalan waktu penyembuhan juga lebih singkat. Jika dengan intervensi bedah penyembuhan bisa berminggu-minggu atau bahkan bulan, maka dengan metode Radiologi Intervensi hanya butuh waktu beberapa jam saja, setelah itu pasien dapat pulang. 

Pelayanan apa saja yang dapat dilakukan dengan Interventional Radiology (IR)?

1. Angiografi dan Angioplasti
angioplasti pada arteri illiaca communis sinister
Prosedur ini mirip dengan prosedur yang sering dilakukan oleh ahli pembuluh darah dan jantung yaitu PTCA (Percutaneus Transluminal Coronary Angioplasty) dalam mengintervensi penyakit jantung coroner, tapi bedanya Interventional Radiology ini bisa dilakukan di pembuluh darah yang lain, tidak hanya di pembuluh darah coroner, misalnya di arteri illiaca untuk mengatasi sumbatan pada arteri ini. Selain itu dapat dilakukan di pembuluh darah kaki, atau ginjal.

2. Embolisasi
Prosedur ini dapat digunakan untuk mengatasi aneurisma, menghentikan perdarahan. Secara awam, cara ini mirip dengan cara menambal pipa yang bocor, dengan bahan butiran-butiran kecil polyvinyl. Cara ini juga dapat dilakukan pada terapi kanker dengan cara mematikan pembuluh darah yang mendarahi sel-sel kanker.

3. Pemasangan Stent 
teknik pemasangan stent dengan metode balloning
Seperti halnya yang dilakukan dokter jantung, metode ini dilakukan untuk mengusahakan agar pembuluh darah tetap paten (tak ada sumbatan), sehingga aliran darah tetap lancar. Stent merupakan kumparan kecil yang terbuat dari metal atau bisa juga terbuat dari plastik yang dapat dipasang di lumen pembuluh darah dengan terlebih dahulu mengembangkannya dengan metode balloning.  

4. Needle Biopsy
Suatu teknik biopsi yang dipandu dengan alat imaging, sehingga akurasi pengambilan sample jauh lebih baik. Karena teknik biopsi ini menggunakan jarum yang sangat kecil jadi bersifat less invasive

5. Intravascular Ultrasound
Alat ultrasound dimasukkan dalam pembuluh darah sehingga didapatkan gamabaran pembuluh darah yang bermasalah menjadi lebih baik.

6. Ekstraksi Benda Asing
IR juga dapat dilakukan untuk mengambil benda asing yang masuk dalam tubuh kita, tentunya benda yang dimaksud adalah yang sulit dijangkau. Kalau cuma serangga atau biji kwaci yang masuk dalam liang telinga atau hidung mah ga usah pake IR kali...^^. Cara ekstraksi yaitu dengan kateter yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah setelah sebelumnya dilakukan imaging untuk mengetahui letak benda asing tersebut. 

7. Trombolisis (Injeksi Clot-Lysing Agent)
Cara ini yaitu menginjeksikan suatu bahan yang dapat melarutkan gumpalan bekuan darah yang berisiko menyumbat pembuluh darah. Contohnya adalah Tissue Plasminogen Activator (TPA). Biasanya cara ini ampuh untuk mengatasi kasus CHD (Coronary Heart Disease) akibat bekuan darah maupun Stroke.

Sekarang ini pasien cenderung memilih pelayanan IR dengan alasan lebih tak mengerikan dibanding dengan harus operasi jantung secara terbuka. Selain itu faktor cost yang lebih rendah juga menjadi pertimbangan. Sekarang tinggal apakah pasien telah mengetahui adanya pelayanan Interventional Radiology sebagai sarana ikhtiar dalam menyembuhkan penyakitnya??


.comment-content a {display: none;}