Life Must Go On

Seorang laki-laki duduk di depan komputer kesayangannya, komputer yang ia rakit sendiri dengan pengetahuan terbatasnya, yang senantiasa berjasa dalam menemaninya menyelesaikan tugas-tugas atau hanya sekedar menemaninya bersenang-senang untuk mengusir penat yang menyeluruk dalam jiwa. Uus, ya Uus adalah nama laki-laki itu.

Uus adalah seorang mahasiswa yang tengah mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter, walaupun sebenarnya ini bukan cita-cita dia ketika masih kecil, tapi nyatanya inilah yang harus ia jalani. Dan kini ia mesti sadar, akan harapan orang-orang sekelilingnya yang menaruh harapan besar atas dirinya. Ia adalah sosok laki-laki yang sederhana, jauh dari hingar bingar kehidupan hedon. 

Sore itu adalah akhir bulan, dia menatap jadwal kegiatan yang tepat berada di LCD computer kesayangannya. Ternyata ia menemukan sesuatu, yeeah..seharusnya ini akan menjadi bulan yang membahagiakan. Tapi apa gerangan? Haha..ternyata si Uus tersadar ia akan bertemu seseorang di sana. Seseorang yang ia kagumi, seseorang yang membuat hatinya luluh. (haha..lebay). Lalu kenapa sih mesti kegirangan segala? Rupanya karena itu adalah kesempatan pertama dan terakhir baginya untuk bersama dengan orang yang membuat hatinya cenderung padanya.

Hm..sebenarnya siapa si orang itu? Orang itu adalah seorang mahasiswi yang juga tengah menuntut ilmu di tempat yang sama, mahasiswi yang cantik, perawakannya gagah (lho..??), santun, dan baik hatinya. Uus mengenal dia sebagai Adra. Tepatnya Fatimatul Zahra, tapi entah kenapa teman-temannya selalu memanggilnya dengan sebutan Adra. 

Sebenarnya sudah lama Uus mengamati dan mencari tahu tentang gadis itu, setiap informasi sekecil apapun pasti ia mengingatnya. Uus berusaha mendekatinya dengan perlahan, kini ia sudah mulai dekat dengan gadis ini. Hal yang ada di benak Uus kala itu ialah bahwa ia harus berterus terang tentang perasaannya pada gadis itu, karena kalau tidak begitu kapan dong bisa maju..hehe..

Hari-hari kebersamaannya di tempat menuntut ilmu terasa lebih berarti, setiap detik yang ia lewati sangatlah berharga. Tapi sayang, Uus belum juga berani mengutarakan isi hati. Entah kenapa ia tak berani menatapnya lama hingga akhirnya menundukan pandangannya, entah kenapa ia selalu gugup dan takhikardi ketika ia berada dekat dengan Adra..(ahh..klasik banget deh..:p). 

Sampai suatu hari ia memantapkan hatinya untuk mengutarakan isi hati, walau dengan asa yang hampir putus, ia berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk merangkai kata. Akhirnya sebuah rangkaian kata meluncur sampai kepada Adra. Tapi tak perlu waktu lama bagi Uus untuk mendapatkan jawaban. Hanya berselang 9 jam jawaban Adra telah diterima Uus.

Begini jawabannya,
“Terima kasih karena telah jujur dan menyampaikan hal ini, tapi maaf mungkin jawabannya tak seperti yang diharapkan..
Sebenarnya saya telah memiliki seseorang yang lebih dulu saya cintai, dia sekarang hampir menyelesaikan studinya. Dan kami serius..”

Jdarrr…seketika itu juga hati Uus langsung hancur berantakan, layaknya reaktor nuklir yang hancur di fukushima, jepang akhir-akhir ini..semua yang dilihatnya gelap, matanya tak dapat melihat kenyataan yang berada jelas dipelupuk mata. Hanya imannya yang menjadikan benteng kokoh hingga akhirnya ia menerimanya dengan hati yang lapang…ia percaya kalau jodoh ga bakalan ke mana deh..hatinya mungkin telah kebal dengan berbagai kenyataan dalam hidupnya yang penuh kegetiran. “ah..life must  go on..”. ujar hatinya menenangkan…


.comment-content a {display: none;}