Home » , , , » Guru, Digugu Lan Ditiru

Guru, Digugu Lan Ditiru

Guru, seorang yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Ya..memang seperti itu adanya, walau mungkin tak semuanya. Seperti judul postingan ini, kalau di jawa *padahal saya orang sunda, ya..tapi tetep lah setidaknya pulau jawa, hehe.., ada suatu ungkapan (lupa saya istilahnya) bahwa yang namanya guru = digugu lan ditiru. Artinya : digugu = dipercaya, diikuti, dijadikan rujukan dan ditiru = ya artinya dicontoh, menjadi panutan. 

Tak dapat dipungkiri betapa besar jasa guru-guru kita, tanpa ketekunan dan kesabaran beliau-beliau ini tentu kita tak akan sehebat seperti sekarang (apapun keadaannya dibanding dengan tanpa hadirnya guru), apalagi guru yang memiliki terobosan-terobosan yang brilian agar para muridnya menjadi faham akan ilmu yang diajarkannya. Hal ini karena esensinya seorang guru yang baik adalah yang dapat menyampaikan ilmu yang dimilikinya pada anak didik dengan bahasa atau cara-cara yang mudah dipahami oleh muridnya tersebut. Dengan demikian, anak didiknya mampu mencerna ilmu yang disampaikan dengan pemahaman yang benar. Tentu akan sangat disayangkan apabila seorang guru yang memiliki ilmu yang tinggi tapi tidak dapat mentransfernya pada anak didik, hanya karena tak dapat menyampaikannya dengan bahasa atau tingkat pemahaman yang cocok untuk anak didiknya. 

Karena filosofi digugu dan ditiru inilah, hendaknya seorang guru memiliki kepribadian yang luhur, berahlak mulia, dan berhati emas. Dahulu *zaman ayah saya SD, mungkin guru menyampaikan ilmunya dengan metode yang keras, tapi di zaman sekarang agaknya guru yang keras dan tak toleran pada anak didiknya mungkin tidak "ngetrend" lagi.

Entah apa yang membuatnya seperti itu, apa karena ingin dihormati, apa karena ingin disegani, atau karena dulu mendapat perlakuan yang keras dari "kakek guru", atau sekerdar ingin menunjukkan kekuasaan (semoga tidak)? Ya..beliau-beliau kadang berlindung dibalik ungkapan "itu semua demi kebaikanmu", mungkin benar itu demi kebaikan anak didik, tapi seandainya beliau para guru juga faham bahwa justru anak didik akan lebih menaruh rasa hormat yang tinggi pada pribadi guru yang bersahaja dan mau lebih berbaur dengan anak didiknya sehingga lebih dekat dengan anak didiknya. Dengan demikian anak didik akan merasa lebih bebas dalam berkonsultasi, dalam belajar, dan menimba ilmu dari telaga sang guru tercinta. 

Tentu sedih sekali jika kita memiliki guru yang "horor", yang lebih parah lagi anak didik akan menjadi segan untuk bertanya dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari guru, atau bahkan sampai-sampai mau ngomong saja salah tingkah lantaran takut salah ucap, salah kata, waah...kalau sudah begini tentu akan sangat disayangkan bagi dunia pendidikan kita. Lha, wong ngomong aja takut salah dan dapat berakibat fatal..gimana mau dapet ilmu..?

Tentu anak didik sangat merindukan saat-saat di mana dapat berkonsultasi dengan nyaman, tak perlu takut salah, atau salah ucap, salah kata, dan tentunya dapat memenuhi keingintahuannya akan hal yang mereka pelajari serta mendapat pencerahan akan pemahaman yang mungkin melenceng dengan bahasa dan penyampaian yang penuh dengan bahasa kebaikan. Kapan hal ini dapat terwujud? Entahlah..dan berharap secepatnya terwujud..


.comment-content a {display: none;}