Meningkatkan Kecerdasan Anak


Mengapa Anak Bisa Dididik Menjadi Lebih Cerdas? 
Sebagai orang tua yang baik tentunya Anda sangat menginginkan buah hati Anda menjadi yang terbaik dalam segala aspek. Oleh karena itu cara mendidik anak dari mulai ia lahir sangatlah menentukan, lagipula menurut penelitian para ahli di bidang kedokteran menyatakan bahwa tiga tahun pertama kehidupan bayi merupakan masa emas untuk belajar.
Belajar semasa kecil didasarkan pada teori hasil riset dalam bidang pendidikan, kedokteran, dan ilmu pengetahuan mengenai tingkah laku. Banyak sekali riset ilmiah bidang lain yang juga mendukung teori-teori dari bidang ilmu tersebut. Semua teori ini membentuk suatu falsafah baru mengenai pendidikan anak yang bisa dipraktekkan oleh para orang tua.
Teori-teori baru ini akan membantu memikirkan dan merencanakan hidup bersama dengan anak. Beberapa teori tersebut berbunyi sebagai berikut :
  1. Anak tidak memiliki taraf kecerdasan yang sudah terbentuk dan tidak juga memiliki tempo perkembangan yang tidak bisa diubah. Lingkungan dapat meningkatkan ataupun menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa permulaan kehidupannya.
  2. Rangsangan di masa kecil bisa mengubah ukuran dan fungsi kimiawi dari otak. Rangsangan sensorik juga merupakan hal yang penting untuk meningkatkan taraf kecerdasan anak.
  3. Perubahan-perubahan dalam kemampuan mental paling besar terjadi pada saat di mana otak mengalami pertumbuhan yang paling pesat. Padahal pertumbuhan otak semakin menurun dengan bertambahnya umur.
  4. Pada umur 4 tahun, anak telah mencapai separuh dari kemampuan kecerdasannya, dan pada umur 8 tahun ia mencapai 80 %. Setelah umur 8 tahun, tanpa melihat bentuk pendidikan dan lingkungan yang diperoleh, kemampuan kecerdasannya hanya dapat diubah sebanyak 20%.
  5. Cortex dari otak seorang anak secara kasar dapat dibandingkan dengan sebuah komputer, yang perlu diberi “program” sebelum dapat bekerja secara efektif. Anak memberi program pada otaknya dengan jalan mengirimkan rangsangan-rangsangan sensorik yang berasal dari mata, telinga, hidung, mulut, dan perabaan ke otak melalui saraf-saraf. Lebih banyak rangsangan sensorik yang merangsang otak, lebih besar pula lemampuan otak untuk berfungsi secara cerdas.
  6. Perubahan-perubahan dalam kemampuan mental paling besar terjadi pada saat di mana otak mengalami pertumbuhan yang paling pesat. Padahal pertumbuhan otak semakin menurun seiring bertambahnya umur.
  7. Ada suatu batas waktu di mana sel-sel otak tidak dapat digiatkan lagi dengan mudah.
  8. Terdapat masa-masa peka pada kehidupan anak terhadap beberapa jenis pembelajaran. Masa peka ini merupakan tingkatan dalam perkembangan di mana keadaan otak yang sedang tumbuh memudahkan anak untuk melakukan beberapa jenis pembelajaran tertentu. Setelah masa peka ini lewat, akan sulit, atau kadang-kadang tidak mungkin lagi untuk melakukan jenis pembelajaran tersebut.
  9. Dalam perkembangan bicara tercakup di dalamnya factor kecerdasan. Belajar berbicara dengan baik seharusnya cukup sulit, akan tetapi anak-anak berhasil melakukannya sebelum umur 5 tahun.
  10. Sifat fisiologis otak memungkinkan anak lebih mudah belajar bahasa kedua atau ketiga  pada tahun-tahun pertama dari kehidupannya dibanding masa-masa selanjutnya.
  11. setiap anak memiliki dorongan untuk eksplorasi (menyelidiki), memeriksa, mencoba, mencari hal-hal baru, belajar menggunakan alat-alat inderanya dan memuaskan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Dorongan-dorongan ini sama kuatnya seperti lapar, haus, mengundarkan rasa sakit, dan dorongan-dorongan lain yang oleh para psikolog disebut dorongan “primer”.
  12. Setiap anak mempunyai dorongan untuk melakukan sesutau akan belajar untuk melakukannya. Ia mencoba, mengulangi, meneliti, dan berusaha untuk menguasai lingkungannya sebanyak mungkin terutama demi kegembiraan yang dirasakannya dalam melakukan kegiatan itu.
  13. Belajar pada dasarnya bisa sangat menyenangkan, dan anak kecil akan belajar dengan sendirinya bila usaha-usaha mereka tidak diganggu oleh tekanan-tekanan, persaingan, pernghargaan, hukuman, ataupun rasa takut.
  14. Semakin banyak yang dilihat dan didengar oleh anak, semakin banyak pula yang ingin diketahuinya. Semakin beraneka ragam rangsangan-rangsangan lingkungan yang pernah dihadapinya, semakin besar pula kemampuannya untuk mengatasi atau menguasai rangsangan-rangsangan tersebut.
Jadi janganlah kita menghalangi anak kita untuk belajar melakukan sesuatu hal dalam rangka belajarnya, misalnya karena kita takut anak kita memecahkan piring atau gelas maka kita melarangnya untuk makan sendiri dan kita sendiri yang menyuapinya makan. Hal ini akan menggangu proses belajarnya, antara lain gerak motorik halus yang ia latih dalam memegang sendok atau garpu maupun gerakan yang lainnya.


.comment-content a {display: none;}