Kejang Demam Pada Anak (Febrile Seizure)

Sudah seminggu ini saya masuk komuda di bagian anak, kebetulan hari pertama komuda saya bertugas di sub bagian neurologi anak. Hari itu dimulailah perjalanan baru saya di klinik. Semoga Alloh senantiasa memberi kemudahan dan pertolongan untuk mempelajari sebagian kecil ilmu Alloh ini..amin..

Pertama saya masuk, saya cari pasien neuro, ok..saya menemukannya. Saya dan teman-teman coba untuk alloanamnesis dengan ibu pasien. Ya..akhirnya kami sampai pada suatu kesimpulan diagnosis kerja, yaitu kejang demam. Lalu apa sih kejang demam itu? karena ini merupakan kasus yang terbilang banyak di Indonesia. 

Perlu diketahui, kejang demam (febrile seizure) ini terjadi pada 2-4% anak usia kurang dari 5 th. Umumnya menyerang anak usia 3 bulan-5 tahun dengan angka kejadian tertinggi pada usia 18 bulan. Sayangnya, gejala ini biasanya diturunkan secara autosomal dominan. Akan tetapi, faktor prenatal dan perinatal juga dapat mempengaruhi terjadinya kejang demam.

Kejang demam (kalau orang awam mungkin lebih familiar dengan step) adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikkan suhu tubuh biasanya > 38 oC per rektal yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranial, tidak terbukti adanya gangguan elektrolit, infeksi SSP dan riwayat kejang tanpa demam sebelumnya. Terjadi pada umur lebih dari 1 bulan (International League Againts Epilepsy Commission on epidemiology and prognossis 1993). 

Secara klinik kejang demam itu dibagi 2, kejang demam simplek (sederhana) sama kejang demam kompleks. Masing-masing ada cirinya. Ciri-ciri kejang demam simplek itu diantaranya (1). Kejang bersifat umum, (2). Lama kejang < 15 menit, dan (3). Kejang tidak berulang dalam 24 jam atau dalam satu episode demam. Sedangkan ciri-ciri kejang demam kompleks antara lain : (1). Kejang dapat bersifat umum maupun fokal, (2). Lama kejang > 15 menit, (3) Kejang berulang dalam waktu 24 jam atau dalam satu episode demam (di antara 2 bangkitan kejang anak sadar). 

Ok..untuk diagnosis dan terapi biarlah kami (dokter) yang melakukannya, tapi yang terpenting untuk diketahui oleh masyarakat adalah bagaimana agar kejang ini tidak berulang. Hal ini penting untuk mencegah komplikasi yang dapat ditimbulkan seperti : kematian (0,64-0,75%), kejang demam berulang (25-50%), epilepsi (2-5%), cacat neurologis, dan gangguan intelegensia. Tentu sangat disayangkan jika buah hati kita sampai mengalami komplikasi seperti disebutkan sebelumnya, apalagi harus mengalami gangguan dalam perkembangannya. 

Mengapa demikian? karena sebenarnya kejang ini dapat dicegah seminimal mungkin, seperti saya kemukakan dalam definisi kejang demam (febrile seizure) bahwa kejang ini dicetuskan oleh demam, jadi ini merupakan celah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat terutama para orang tua untuk mencegah kejang demam ini berulang. Dengan demikian yang perlu dilakukan oleh orang tua dalam usaha agar anaknya tak mengalami kejang demam adalah mengontrol demam yang dialami. 

Mungkin anda para orang tua tentu akan membawa anak anda ketika terjadi demam ini ke dokter, dan tentunya dokter akan memberikan resep untuk menurukan panasnya. Tapi terkadang, obat saja tak cukup, maka harus dibarengi dengan upaya tertentu dari orang tua untuk mengendalikan demam tersebut. 

Kenyataan di masyarakat
Ini merupakah contoh saja, tentang apa yang terjadi di masyarakat (persepsi masyarakat), saat anak demam, mereka (orang tua) cenderung memakaikan pakaian yang tebal seperti jaket, diselimuti, celana panjang, topi dan lain sebagainya. Mereka telah termainset dalam pikirannya untuk melakukan demikian karena biasanya orang dewasa jika demam maka mereka melakukan seperti apa yang saya sebutkan tadi. Tapi ingat, anak itu bukan orang dewasa dalam wujud kecil *pinjem kata-kata dosen saya..Anak itu berbeda dengan orang dewasa. Sering sekali seorang anak dengan demam datang ke dokter dalam keadaan terpasang jaket, topi, dan celana panjang. Padahal semestinya, ketika demam anak justru seharusnya memakai pakaian seminimal mungkin. Hal ini akan membantu dalam menurunkan demam si anak. 
Satu lagi sebagai contoh, ketika anak demam, maka AC/kipas angin di ruangan atau kamar anak dimatikan dengan alasan takut masuk angin, padahal dengan dibantu dengan lingkungannya yang sejuk dengan sirkulasi udara yang bagus ini akan membantu dalam menurunkan demam si anak. 
Namun demikian, obat turun panas tetap sangat diperlukan dalam menurunkan demam dan untuk mencegah kejang demam, terkadang ada juga yang segera memberikan obat anti kejang suppository saat anak demam tinggi untuk mencegah kejang. Oleh karena itu ibu-ibu atau mungkin bapa-bapa mari kita hindarkan anak kita dari kejang demam demi pertumbuhan dan perkembangan anak kita dan masa depan mereka.

Lalu apakah mungkin kejang demam ini berulang di kemudian hari?
Kemungkinan kambuh, seperti saya utarakan sebelumnya, dapat berulang pada 25-50% kasus dengan rata-rata dapat terjadi pada 30% kasus. Berikut adalah faktor risiko berulangnya kejang demam :
1. Riwayat kejang demam pada keluarga
2. Kejang pertama kali usia < 12 bulan
3. Tingginya suhu tubuh
4. Lama waktu terjadinya kejang setelah panas

Semoga tulisan ini bermanfaat..amin..


.comment-content a {display: none;}