Cintailah Apa Adanya

Suatu hari, terdengar suara keras dari rumah itu. Rumah sepasang pasangan suami istri yang telah menikah dua tahun lamanya. Sore itu adalah puncak "kegerahan" sang istri pada suaminya. Sang istri bergumam. "Saya mencintai suami saya, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati ketika saya bersandar di bahunya.

Tak terasa telah dua tahun menjalani hidup bersama, dua tahun masa perkenalan dan dua tahun dalam ikatan rumah tangga, tapi sekarang saya akui saya mulai merasa lelah, dulu saya punya alasan-alasan yang membuat saya mencintainya, tapi sekarang yang ada hanya kejemuan hati."

"Memang saya seorang wanita yang perasa dan sensitif, saya sangat merindukan saat berdua yang romantis layaknya seorang anak yang merengek meminta permen pada ayahnya. Tapi entah kenapa sekarang saya tak lagi dapatkan itu semua. Sangat berbeda dari yang saya harapkan. Suami saya sangat kurang sensitifitasnya, ia cenderung cuek dan acuh. Dia juga tak pandai menciptakan suasana romantis yang saya dambakan."

Malam itu, sang istri memberanikan diri mengutarakan apa yang dia rasakan pada suaminya tersebut. Dengan nada agak sedikit meninggi, bahwa ia menginginkan perceraian. Kontan sang suami kaget, "Mengapa?" dia bertanya dengan penuh penasaran. "Saya lelah, saya tak mendapatkan cinta yang saya harapkan dari kamu A'.."

Si Suami lantas tertegun, dia tak berani menjawab pernyataan istrinya itu, dia juga tak berani langsung memutuskan dan mengatakan "talak", ia sadar betul, bahwa sekali saja ia berkata demikian, maka sesungguhnya telah jatuhlah talak satu pada istrinya...dan tentu ia tak menginginkan hal itu. Ia hanya tertegun di depan komputernya, tampak seolah sedang mengerjakan sesuatu, namun sebenarnya tak ada yang dikerjakan dengan komputernya.

Kala itu kekecewaan sang istri makin memuncak, "sungguh seorang pria yang bahkan tak dapat melukiskan perasaannya sendiri walau di wajahnya. Apa lagi yang saya harapkan dari Aa..?"
Beberapa menit kemudian suaminya mendekatinya dan bertanya, "Apa yang saya dapat lakukan untuk mengubah pikiranmu, Sayang?" ujar suaminya lirih.

Tampak dia menatap lekat wajah suaminya, dan menatap jauh dalam matanya. Lalu ia berkata, "Aa..saya punya pertanyaan, jika Aa' dapat menemukan jawabannya dalam hati saya, maka saya akan mengubah pikiran saya..".
"Apa pertanyaannya? saya akan berusaha menjawabnya sebisa mungkin,"
"Apabila saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di dinding jurang tebing yang tinggi, sedang kita berdua tau jika Aa' pergi ke sana Aa' akan mati, Apa Aa' bersedia mengambilnya untuk saya?"
Mendengar itu dari istrinya, ia menghela nafas panjang, tak lama kemudian ia berkata, "Saya akan memberi jawabannya besok.."

Mendengar ucapan suaminya, hati perempuan itu tambah tak karuan, hampir saja ia tak bisa tidur malam itu. Keesokan harinya, ia tak mendapati suaminya di sampingnya, hanya selembar kertas yang ditaruh di atas bantal yang biasa digunakan suaminya tersebut. Di selembar kertas itu terdapat suatu rangkaian kata-kata yang ditulis oleh tangan suaminya yang sangat ia kenal berikut :

"Sayang, jujur saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu. Tapi saya punya alasan untuk itu, dan izinkan saya menjelaskannya." Membaca kalimat pertama sungguh terhentak perempuan itu. Tapi setelah kalimat kedua dibacanya, ia putuskan untuk membacanya lebih lanjut.

"Sayang, kamu dapat mengetik novel yang kamu buat di komputer dan kamu selalu mengacaukan programnya sampai akhirnya menangis di depan komputer lantaran tak bisa memperbaikinya. Maka sayapun harus memberikan jari jemari saya untuk membantumu memperbaiki programnya agar kamu bisa tersenyum dan dapat bekerja kembali."

"Kamu suka sekali membaca buku hingga tiap ke manapun kamu pergi buku favoritmu selalu menyertai, tapi anehnya kamu selalu melupakan di mana kamu menaruh buku kesayanganmu itu. Maka saya harus memberikan ingatan saya untuk membantumu mengingatnya."

"Kamu suka sekali jalan-jalan ke luar kota, akan tetapi kamu selalu nyasar dan tak tau arah yang mesti kamu ambil, lalu kamu menelepon, maka saya harus meminjamkan mata saya untuk mengarahkan kamu agar tak tersesat."

"Kamu juga selalu lupa untuk membawa kunci rumah ketika kita berpergian ke luar, hingga ketika kita pulang kita tak bisa masuk rumah, maka sayapun dengan ikhlas memberikan tangan saya untuk menjebol pintu agar kita berdua bisa masuk."

"Kamu selalu pegal-pegal ketika datang bulan, dan entah kenapa itu akan reda ketika saya memijat pundakmu, maka saya juga harus memberikan tangan ini untuk memijat pundakmu."

"Terkadang kamu sangat pendiam dan tampak murung jika tengah memiliki keinginan terhadap sesuatu, dan saya takut jika kamu akan menjadi aneh, maka saya harus membelikan sesuatu tersebut agar kamu bahagia atau meminjamkan lidah saya untuk mendiskusikan apa benar-benar kamu membutuhkan barang tersebut atau hanya sekedar menghiburmu."

"Kamu suka sekali membaca sambil tiduran atau menatap komputer hingga sangat lama, maka saya harus menjaga mata saya agar ketika tua nanti saya masih bisa menolong membacakan cerita dan membantumu memotong kuku."

"Tangan, kaki, dan tubuh ini akan senantiasa memegang, membimbing dan mengarahkanmu, menyusuri pantai yang indah, menceritakan bunga-bunga indah yang kamu tanam mekar di kebun pekarangan rumah kita laiknya cantik paras wajahmu."

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu karena saya tak bisa melihat kamu meneteskan air mata lantaran kematianku."

"Sayang, saya sadar, di luar sana mungkin ada banyak laki-laki yang bisa mencintaimu melebihi saya mencintaimu. Maka dari itu Sayang, jika apa-apa yang telah diberikan oleh tangan ini, kaki ini, lidah ini, mata dan tubuh ini tak cukup untukmu, maka saya tak 'kan bisa menahanmu untuk mencari tangan, kaki, dan tubuh lain yang bisa memberikan kebahagiaan lebih untukmu. Percayalah kebahagiaanku adalah ketika melihat engkau bahagia."

Tak sadar, air mata perempuan itu menetes membasahi pipinya, hingga menetes dan merusak tintanya. Kalimat terakhir dari tulisan tersebut adalah :

"Sekarang, wahai bidadariku, jika engkau puas dengan jawaban saya ini, maka larilah ke pintu depan rumah kita dan persilakan saya masuk, saya sedang menunggu di depan pintu sekarang."

"Tapi jika engkau tak puas dengan jawabanku ini, sayang, maka biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barangku, dan saya tak akan mempersulit kehidupanmu."

Lalu perempuan itu bergegas membukakan pintu depan dan mendapati suaminya tengah memegang sepotong roti bakar dan segelas susu kesukaannya. Tak kuasa menahan, ia pun memeluk suaminya dan mempersilakan masuk.

Adakalanya ketika kita merasa kasih sayang dan cinta itu telah mulai memudar, karena merasa yang dikasihi tak memberikan apa yang diharapkan, maka sesungguhnya kasih sayang itu telah hadir dalam bentuk lain yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Mungkin yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita yang sah itu tentunya.


.comment-content a {display: none;}